ANALISIS
PESAN ISLAMI DALAM FILM
“99
CAHAYA DI LANGIT EROPA”
(Studi Analisis Semiotik Pendekatan Roland Barthes)
Ditujukan untuk Memenuhi tugas Mata Kuliah
METODE PENELITIAN
KOMUNIKASI ANALISIS TEKS MEDIA
Disusun Oleh :
INENDA FELAYANI SAFITRI
B76212112
Dosen Pembimbing :
B76212112
Dosen Pembimbing :
Ali Nurdin, S.Ag., M.Si
PROGRAM
STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Komunikasi
visual merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan
gagasan. Para ilmuwan yakin bahwa kesan visual menerima 25 kali perhatian lebih
besar kesan yang diterima oleh telinga. Disamping itu, indera penglihatan
sendiri merupakan alat tercepat guna mencatat imaji dalam otak manusia.
Penglihatan memberikan 83% dari seluruh pengetahuan yang diperoleh dari
perbandingan 4:1 melebihi semua indera lainnya. Manakala kesan audio dan visual
digabungkan seperti halnya dalam film bersuara, maka penggabungan itu
menimbulkan dampak yang kuat dalam komunikasi. [1]
Media
adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara,massa yang
berasal dari bahasa inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan.
Dengan demikian, media massa adalahperantara atau alat-alat yang digunakan oleh
massa dalam hubungannya satu sama lain (Soehadi, 1978:38). Yang termasuk media
massa terutama adalah surat kabar, majalah , radio telvisi dan film sebagai the
big five of mass media, internet (cybermedia, media online).
Fungsi
media massa adalah menyiarkan informasi (to inform), mendidik (educate), dan
menghibur (entertaint).[2]
Media massa juga semakin banyak melalui transformasi sosial. Media penyiaran,
surat kabar, film , novel-novel, dan bentuk komunikasi lain menciptakan
kerangka berpikir yang sama begi semua warga masyarakat. Media massa menemukan
pengetahuan serta nilai-nilai dari generasi terdahulu.[3]
Film Indonesia yang kisahnya tentang Islam berikut
problematikanya sudah jamak ditemui dalam lima tahun terakhir. Apalagi,
sejak Ayat-Ayat Cinta berhasil
ditonton sekitar 3,5 juta orang pada
tahun 2008. Namun, kesuksesan film-film Islami itu tidak awet. Jumlah
penontonnya terus menurun. Film Ketika
Cinta Bertasbih pada tahun 2009 meraih 3,1 juta penonton, Sang Pencerah ditonton
oleh 1,2 juta orang
dan Dalam Mihrab Cinta meraih 623 ribu penonton pada tahun
2010. Terakhir, La Tahzan yang
dirilis pada liburan Lebaran pada Agustus lalu hanya ditonton 235 ribu orang. Dengan kondisi dan
minat penonton film Indonesia seperti itu, Maxima Pictures 'nekat' memproduksi film 99 Cahaya di Langit Eropa.[4]


